Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keresahan Saya

Saya resah, entah hal ini dirasakan oleh teman-teman juga atau tidak. Menjelang pilpres kita sudah pasti hafal bagaimana cara berkampanye yang telah diusung oleh kedua capres-cawapres baik lewat media manapun termasuk media jejaring sosial. Awal-awal saya masih bisa mentolerirnya saat melihat friendlist di akun saya entah itu teman yang memang saya kenal atau sekedar teman jejaring sosial yang mulai fanatik terhadap salah satu capres-cawapres, yang membuat saya kemudian merasa kesal, jengah, miris adalah masing-masing dari mereka saling ‘serang’, menganggap capres-cawapres idola mereka adalah yang PALING baik, yang PALING benar, yang PALING masuk akal, yang PALING cocok, dan yang PALING PALING yang lain. Sebagai pemilih yang baru merasakan euforia pemilihan capres-cawapres tentu saya excited bukan main. Tapi... semua itu terasa hambar, sebagai kaum netral yang tidak menitikberatkan salah satu capres-cawapres saya merasa pemilu taun sekarang terlalu menjengkelkan, mungkin banyak pula di dominasi pemilih yang baru merasakan euforia pemilihan capres-cawapres sehingga mereka bersikap berlebihan. Tidak sedikit yang saya rasa cuma ikut-ikutan biar dibilang gaul xD Saya tidak bilang bahwa berkampanye di media sosial itu salah, tidak. Namun yang saya kritisi adalah caranya. Tidak sedikit yang mereka lakukan adalah SALING SERANG satu sama lain. Seakan hubungan pertemanan yang telah mereka jalani, misalnya menjadi renggang HANYA KARENA berbeda capres-cawapres pilihan dan saling ngotot bahwa pilihannya-lah yang PALING BENAR diantara yang lainnya.
Jujur, saya sedih, ditambah lagi pemilihan capres-cawapres dilakukan di bulan suci ramadhan yang harusnya hati kita lebih ikhlas, lebih bisa menjalani ibadah dengan sebaik-baiknya malah tercoreng. Dengki, iri, kemarahan, semua justru mewarnai bulan suci ramadhan tahun ini hanya karena bertepatan dengan pemilihan capres-cawapres? OH! Begitu menyedihkannya! Pembahasan topik capres-cawapres nampaknya adalah masalah yang sensitif karena tidak sedikit yang gampang tersulut emosi.
Saya kira, setelah ada pengumuman masa tenang yang bebas dari kampanye saya bisa bernafas lebih lega sebab jejaring sosial yang memang  notabennya untuk hiburan dan informasi bisa TERBEBAS dari yang namanya segala hal berbau capres-cawapres. DIMANA LETAK MASA TENANG? Berkali-kali saya memasang status di jejaring sosial yang merupakan salah satu bentuk kejengahan saya dalam menghadapi euforia pemilihan capres-cawapres tahun ini. Kenapa sih, nggak kalian simpen aja itu pilihan kalian sampai dibilik suara? Memangnya semua orang  harus tau kah apa pilihan capres-cawapres kalian? Saya rasa tidak, karena tidak semua orang senang jika terus dijejelin yang namanya soal capres-cawapres. Bahkan tidak sedikit yang terkesan memaksa, lalu ada lagi yang menyebarkan berita-berita fitnah. Dimanakah esensi damai itu sendiri? 
Jujur, kedua kandidat capres-cawapres memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga saya kesulitan untuk (terpaksa) memilih salah satunya. Saya pun sudah memiliki pilihan berdasarkan beberapa pertimbangan-pertimbangan panjang yang telah saya lakukan, tapi berkoar-koar kah saya di jejaring sosial siapa yang saya pilih? Tidak. Bahkan saya merasa pilihan itu cukup saya dan Tuhan yang tau dan akan saya bawa hingga ke bilik suara.  Saya hanya ingin menggunakan hak suara saya dan memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan panjang yang telah saya lakukan, terlepas dari pada akan jadi apa nantinya saya pasrahkan semuanya pada Tuhan. Saya bahkan tidak ingin dibilang keren karena sok-sok ngerti dan paham mana yang terbaik. Kepantasan itu saya rasa akan terjawab jika hasil pilpres besok telah ada. Siapapun yang menang nantinya, saya hargai itu karena saya rasa itulah pilihan yang terbaik diantara yang baik.

Saya tau, saya masih bau kencur, masih terlalu muda untuk mengerti sebab saya pun bahkan tidak mengalami yang namanya masa-masa kesulitan Indonesia jaman dulu. Saya hanya tau dari orang tua saya, dan beberapa sumber buku dan berita-berita di media yang saya baca. Sehingga banyak kekhawatiran-khawatiran orang-orang yang saya rasa terlalu berlebihan. Khawatir boleh-boleh saja, tapi seharusnya sewajarnya saja bukan? Berbeda pilihan capres-cawapres seharusnya menjadikan kita semua seharusnya menjadi lebih dewasa sebab bukankah esensi demokrasi seperti itu?
 Iya, saya cuma perempuan 19 tahun yang sedang beranjak menuju gerbang awal kedewasaan 20 tahun yang bahkan tidak mengerti apa-apa soal politik. Bahkan ingin rasanya saya APATIS akan politik, tapi lagi-lagi dosen saya menghimbau bahwa sebagai mahasiswa tidak seharusnya apatis, tidak suka politik sah-sah saja tapi jangan sampai apatis karena siapa lagi yang akan peduli akan nasib bangsa ini jika bukan orang-orang di dalamnya khususnya generasi-generasi muda? Iya, yang saya tahu dari dosen politik saya adalah “POLITIK ITU KOTOR. KAWAN BISA JADI LAWAN BEGITUPUN SEBALIKNYA.” Jadi memang bukan suatu hal aneh lagi jika politik demikian. Saya hanya berharap masa-masa menjemukan soal pilpres segera usai. Sebab saya ingin, jejaring sosial kembali kepada fungsi awalnya yaitu sebagai hiburan dan media informasi tanpa ada embel-embel menjelekan dan menimbulkan konflik antara satu sama lain. Dunia nyata saja sudah begitu menjemukan, jangan buat media sosial menjadi menyebalkan pula! :p
Harapan saya sederhana, hanya harapan naif yang ingin saya selipkan bagi siapapun yang terpilih besok menjadi presiden RI semoga bisa membawa Indonesia—bumi pertiwi tercinta kita menjadi lebih baik lagi. Dan mereka (capres-cawapres) yang terpilih nanti semoga dapat memegang amanah yang telah diberikan rakyat kepada mereka sebab itulah esensi mereka sebagai pemimpin. Dan untuk kalian yang capres-cawapresnya nantinya telah terpilih, ingat sama omongan kalian sendiri yang begitu mengelu-elukan capres-cawapres idola kalian pada masa kampanye semoga kalian tidak menjilat ludah kalian sendiri ya dengan menghujat capres-cawapres yang telah kalian pilih itu jika menemukan ketidaksesuaian pasca mereka menjadi presiden maupun wakil presiden. Ya gitu dulu dielu-elukan, ujung-ujungnya dihujat. Kan lucu banget. Semoga kalian nggak jadi pendukung musiman ya, yang heboh bekoar-koar saban 5 tahun sekali :p
Ini hanya postingan, catatan keresahan saya atas jengahnya saya menghadapi euforia di jejaring sosial pada masa pilpres tahun 2014 ini, saya tidak meminta kamu yang membaca ini untuk setuju-setuju begitu saja atas apa yang telah saya tulis, karena saya tahu, kalian sendiri lah yang tahu mana yang terbaik bagi diri kalian sendiri. Semoga kita semua menjadi pemilih yang cerdas ya, apapun hasilnya semoga kita semua dapat menerimanya dengan hati yang besar. dan selamat berpuasa!
Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke hello.mitaoktaviacom@gmail.com

1 komentar untuk "Keresahan Saya"

  1. sepertinya belum mengerti apa itu pemilu luber kk (termasuk saya haha) tapi saya sih ga koar-koar disana kak. ga ngerti apa namanya hari tenang juga ka, masih banyak juga artis-artis yang kampanye disana, padahal mereka orang perpendidikan (mungkin)

    BalasHapus