Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Digitalisasi dan Kemudahan Pembayaran hingga ke Luar Negeri dengan QRIS Cross-Border


        Dua minggu lalu, saya sedang menunggu dengan sabar antrean di depan kedai es krim yang ada di salah satu mal di Jakarta Selatan. Di depan saya ada seorang Ibu dan kedua anaknya yang masih kecil ikut mengantre juga. Antrean pun saat itu ada lima baris dan berjalan lancar tanpa macet. Satu per satu orang-orang di depan pun sudah maju dan selesai memesan dan membayar. Saat giliran mereka tiba, Si Ibu tampak gelisah karena terlihat kesulitan mencari-cari dompetnya di dalam tas ransel merah yang dibawanya. Kurang lebih 10 menit dia masih mencari-cari, antrean di belakang semakin mengular. Setelah susah payah mencari, akhirnya dompet yang dicarinya berhasil ditemukan. Ibu itu berhasil membayar dengan selembar uang tunai Rp100.000 untuk es krim yang dipesannya. Setelah itu, barisan antrean pun akhirnya kembali lancar.


            Mereka pun berlalu, setelah menunggu 20 menit lamanya akhirnya giliran saya tiba. Saya maju ke depan kasir untuk memesan es krim yang saya inginkan. Setelah melihat menu sekilas, sambil mengeluarkan ponsel, saya memulai percakapan dengan kasir kedai itu.

 

      “Mas, bisa bayar pakai QRIS?”

“Oh iya, Mbak, bisa,” kata Mas Kasir.

“Oh yaudah kalau begitu, dua es krim cone yang mix Vanilla-Matcha 2 ya, Mas,” ujar saya.


Pesanan pun dicatat dan bon yang berisi kode QRIS keluar dan saya pun memindai dan membayar total jumlah pesanan saya. Syukurlah, saya bisa bertransaksi dengan QRIS karena di bulan sebelumnya saya pernah ingin bertransaksi dengan QRIS di salah satu restoran mi kekinian di Bogor, tetapi ternyata tidak bisa. Sebagai informasi, QRIS yang ada di merchant menengah dan besar menggunakan QRIS dinamis yang biasanya muncul di layar mesin kasir atau di bon transaksi yang keluar, sedangkan di merchant kecil dan mikro masih menggunakan QRIS dinamis yang bisa dilihat di meja kasir atau tertempel di etalase atau dinding toko.


Hanya sekitar tujuh menit, transaksi pembayaran sudah berhasil dilakukan. Dua es krim mix vanilla-matcha sudah ada di kedua tangan, perlahan saya berjalan menjauh dengan rasa bahagia bersama teman saya. Ini yang jadi salah satu hal yang saya suka dari pembayaran dengan menggunakan QRIS. Serba sat set sat set jadinya. Kecepatan dan efisiennya membuat saya lebih sering memilih QRIS dibandingkan transaksi non tunai lainnya.


Sebetulnya, pembayaran non tunai memang bukan yang pertama kali saya lakukan di tahun 2023 ini. Sejak masa pandemi COVID-19, segala transaksi non tunai selalu jadi pilihan dibandingkan dengan tunai. Awalnya atas alasan keamanan dan mengikuti anjuran protokol kesehatan untuk melakukan berbagai aktivitas tanpa perlu kontak langsung dengan orang lain. Namun, lama-kelamaan manfaat transaksi non tunai yang saya rasakan lebih besar daripada yang saya kira. Apalagi transaksi pembayaran non tunai yang dilakukan jadi praktis dan efisien lagi sejak QRIS mulai hadir dan diperkenalkan sejak sekitar tiga tahun lalu. Semakin masif juga digunakan di berbagai kedai penjualan dan jasa pembayaran. Dari mulai kedai Bakso Malang langganan saya di pinggir jalan, pembelian tiket acara, biaya parkir, belanja di mal besar hingga pembayaran di hotel pun semua sudah menggunakan QRIS. Bahkan, di lini sosial media saya waktu itu pernah lewat informasi kalau infak sedekah di masjid pun ada yang sudah bisa menggunakan QRIS sebagai sistem transaksinya. Betul-betul mudah, cepat, dan aman yang saya rasakan sejak kemunculan QRIS ini sebagai sistem pembayaran non tunai di Indonesia.


Digitalisasi kemudahan pembayaran ke luar negeri ASEAN dengan QRIS Cross Border


            Terus terang, saya merasa QRIS memang jadi cara pembayaran yang paling praktis dibandingkan transaksi non tunai lainnya, sebut saja menggunakan debit atau kredit. Bila transaksi non tunai dengan kartu terasa masih ribet karena harus mengeluarkan kartu, memasukkan pin kartu debit, dan konfirmasi pembayaran. Sedangkan, bila menggunakan QRIS hanya butuh satu ponsel, satu aplikasi mobile banking dari bank yang dimiliki. Tinggal memasukkan kode, memindai, memasukkan jumlah, dan selesai. Transaksi pun berhasil dilakukan kurang dari 7 menit, betul-betul menghemat waktu.


            Masih dari sisi konsumen, kemudahan transaksi QRIS ini sangat membantu. Apalagi kadang saya lupa mengambil uang tunai juga. Sekarang sudah bebas khawatir tidak punya uang tunai, sebab hanya perlu memindai kode QR  konsumen sudah bisa bertransaksi dengan mudah. Sementara itu, dari sisi penjual, transaksi QRIS juga lebih memudahkan karena penjual tidak harus menghitung kembalian yang diberikan apalagi bila nominal transaksinya sedikit ribet. Selain itu juga bebas penipuan lewat penyebaran uang palsu juga karena digitalisasi pembayaran yang dilakukan melalui QRIS.


Belakangan saya baru tahu kalau Bank Indonesia telah membuat sistem QR Cross-Border untuk pembayaran lintas negara juga. Padahal sistem pembayaran ini ternyata sudah diresmikan sejak 8 Mei 2023 dengan kesepakatan antara Indonesia dengan Malaysia. Jadi, saat ini Malaysia dan Thailand menjadi negara yang ASEAN yang sudah bisa menggunakan sistem ini. Artinya sudah sekitar 6 bulan sistem pembayaran ini ada, tetapi saya baru tahu. Sistem pembayaran lintas negara ini memang baru bisa digunakan di dua negara. Ke depannya, Singapura dan Filipina juga bisa menerapkan sistem QR Cross-Border ini untuk transaksi pembayarannya.


Integritas dari berbagai bank di Indonesia dan di wilayah ASEAN ini tentu memudahkan konsumen dan pedagang di kedua negara sehingga dapat melakukan dan menerima pembayaran barang dan jasa langsung melalui QR Code. Transaksinya akan diubah otomatis ke mata uang negara tujuan. Jadi, tak perlu susah-susah terlebih dahulu untuk menukar uang Rupiah ke mata uang negara ASEAN tujuan. Cukup pakai QRIS dari mobile banking sudah bisa bertransaksi di luar negeri.


QR Cross-Border memang punya peran krusial untuk meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara ASEAN. Tidak hanya itu saja, dengan adanya QR Cross-Border ini juga bisa mendukung digitalisasi perdagangan dan dapat menjaga stabilitas makroekonomi dengan memperluas penggunaan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal yang ada di satu negara. Hal menariknya lagi tentang kemudahaan transaksi QRIS lintas negara ini adalah penggunaan QR Cross-border ini juga tidak hanya tersedia bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga bagi turis asing. Kemudahan yang sama bisa dinikmati siapa pun dengan menggunakan QR Cross-border ini sebagai transaksi pembayarannya. Apalagi ke depannya, sistem pembayaran lintas negara ini juga akan ada untuk Jepang dengan menggunakan QR Code Indonesian Standard (QRIS) dan Japan Unified QR Code (JPQR). QRIS ini memang CeMuMuAH alias cepat, mudah, murah, aman, dan handal untuk transaksi di mana saja dan kapan saja. Tak hanya di Indonesia, tapi kini juga untuk lintas negara. Mari dukung bersama sistem pembayaran yang memberi banyak kemudahan dan manfaat bagi kita semua. QRISnya satu, menangnya banyak! 

 

This article are participant of BI Digital Content Competition 2023

 


Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke hello.mitaoktaviacom@gmail.com

Posting Komentar untuk "Digitalisasi dan Kemudahan Pembayaran hingga ke Luar Negeri dengan QRIS Cross-Border"