Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bermula di Trier, Berjumpa di Jakarta Selatan



Kali ini aku ingin bercerita padamu tentang sebuah pertemuan tidak terduga yang menakjubkan! 

Siapa sangka berawal dari sebuah grup Backpacker di FB. Ditambah aku suka cara berceritanya saat membagikan pengalamannya saat itu. Mengantarkanku bertemu dan mengenal Teh Vitri. Enggak cuma di sosmed, tapi aku juga suka baca-baca blognya Teh Vitri soal pengalamannya pas Au pair di Jerman. Soalnya zaman kuliah dulu aku pernah punya ambisi ke luar negeri. Pas itu entah kenapa kabita Jerman pisan.😂 

(Tapi ternyata usahaku gak sekuat ambisiku dan belum rezeki ke Jerman jalur Au pair. Hahaha).

Meski udah jarang kontakan sejak lulus kuliah dan mulai sibuk sama kehidupan masing-masing, tapi masih temenan baik sama Teh Vitri di sosmed. Meskipun komunikasi udah gak seintens dulu pas tahun pertama kenal. 

Jadi, pas zaman aku kuliah aku sama Teteh sering kirim-kiriman pesan di wall fb, chat fb sampe berlanjut ke WA. Dari yang awalnya nanya soal Au Pair di Jerman sampai kadang sharing soal kehidupan kita juga masing-masing. Banyak yang aku tanyain ke teteh, banyak juga yang teteh kasih informasinya & teteh juga gak segen-segen sharing pengalamannya juga dalam hidup, termasuk percintaan. Bener-bener berasa kayak punya kakak yang jadi orang yang aku andalkan dan percaya. Apalagi aku yang emang dari dulu kepengin juga punya kakak--tapi teu kesampaian tea ning. 

Da Allah mah Maha Baik emang. Kalau aku inget-inget lagi juga selama perjalanan hidupku, aku selalu dipertemukan dengan orang-orang yang usianya di atasku dan berasa punya kakak jadinya. Kek, aku emang gak jadi punya kakak kandung, tapi Allah menghadirkan kenalan kakak-kakak yang baik bangeeet. Alhamdulillah.

Bermula dari Trier porta nigra Jerman

Pertemuan dengan Teh Vitri mungkin jadi salah satu pertemuan yang aku syukuri juga. Dari sharing dan banyak cerita pun teteh bener-bener membantuku. Dari secarik kertas yang Teh Vitri tulis tangan di depan Porta Nigra, Trier, Jerman kala itu pun.  Mita di usia 20-an terus melangkah maju membawa cita-cita kalau suatu hari bisa ke Jerman juga. Cita-cita itu yang jadi nyala dalam dirinya. Cita-cita itu yang membuatnya ingin segera menamatkan kuliah dan enggak bermalas-malasan belajar karena tujuanku saat itu, mau lulus kuliah terus ke Jerman! Wkwkwk.

Omong-omong soal pertemuan pertama ini, jujur seharian ini aku gak berhenti senyum. Mulai berangkat dari  Bogor sampai ke tempat janjian ketemu. Soalnya emang sesenang itu. Mungkin agak lebay, tapi rasanya hampir mau nangis. Apalagi pas akhirnya ketemu dan secara otomatis pelukan. Berasa ketemu orang yang lama gak dijumpai padahal hari ini adalah pertemuan pertama kami. 


Bukan Mita namanya kalau enggak ada cerita bodornya. Di pertemuan itu juga ada sih satu hal lucu yang kadang kalau diinget lagi bikin aku ngajak. Jadi, aku emang udah datang duluan. Nunggulah aku di lobby utama (bawah) sambil duduk. Terus Teteh udah datang. Taunya ada di GF--yang ternyata satu lantai di atas tempat aku nunggu. Setelah memberitahukan lokasinya menunggu. Aku samperin ya kan. Da emang aslinya kita belum pernah ketemu dan aku masih pake masker. Jadi, wajar kita masih saling enggak ngeuh. Cuma karena aku dikasih detail titik lokasi Teteh berdiri. Enggak susah buat aku langsung mengenali. Pas aku samperin, si Teteh kalahka bengong. Begitu aku buka masker dan nyapa, "Teteh!", barulah Teh Vitri sadar kalau itu aku yang nyamperin dia. 😂

Kemarin bener-bener seru banget. Keliling di mall pun nyari tempat makan enggak berasa cape pun. Tambah happy juga rasanya pas ketemu anak Teteh yang ramah dan cheerful. Padahal baru ge ketemu pertama kali sama aku juga di hari ini, tapi dia gak berhenti senyum terus ke akuuuu. Aaaak meleleh rasanya. Bener-bener anaknya si Teteh ini mah. Supel dan ramahnya plek-ketiplek pisan. Belum lagi juga jadi kenalan juga sama adik ipar Teteh. Jadi, nambah temen baru juga juga nih aku. Hatur nuhun pisan, Teh Vitri. 

Meskipun hanya bertemu secara virtual. Tanpa pernah sekalipun bertatap muka. Aku merasa senyambung itu dan sedekat itu sama Teteh. Apalagi kita sama-sama dari Sunda jadi secara komunikasi pun lebih nyambung. Pokoknya berasa Teteh tuh kayak kakak sendiri.  Secara enggak langsung kita berdua pun jadi saling support meski baru bisa lebih banyak lewat kata-kata. Kayak aku senang kalau teteh senang. Makanya pas dikabarin Teh Vitri akhirnya bertemu jodohnya dan menikah. Aku juga ikut seneng banget! Sempet juga aku diundang ke pernikahannya, tapi teu bisa datang karena jauh. Hiks. Sedih. :(


Aku di masa dua puluhan itu kaget juga karena segini baiknya si Teteh ke aku. Tulusnya juga bisa dirasakan. Padahal cuma kenal virtual aja belum ketemu muka sama sekali karena terpisah negara dan benua, tapi teteh udah ngundang aku ke acara pentingnya.


Di tahun 2024 ini akhirnya kesempatan itu tiba juga. Pas tau Teh Vitri ada rencana mudik ke Indonesia. Tanpa pikir panjang aku mencetuskan ide mau ketemuan. Alhamdulillah, Teh Vitri mau. Situasi juga mendukung, akhirnya pertemuan terjadi juga.  Memang apa yang ditakdirkan untuk bertemu pasti akan bertemu. Bener-bener effortless rasanya. Apa yang selaras akan diizinkan olehNya untuk bertemu. Alhamdulillah, masyaallah. Ibaratnya kayak gak banyak hal yang harus disepakati demi terciptanya sebuah pertemuan. Soalnya kita berdua ge hayu-hayu aja. Jadi, gampang bersepakatnya.


"Teh, hayu ketemu yuk". 

"Ih Hayu atuh"

"Ketemu di mana?"

"Yaudah aku yang nyamper ke Jakarta weh."

"Kamu bisa di sini bisa gak, Mit?". 

"Hmm. Belum pernah di sini sih, Teh."

"Oh yaudah di sini aja atuh ya."

"Oke. Hayu! Lebih deket juga ke aku."


Dulu cuma bisa nerka-nerka bisa gak ya ketemu sama teteh beneran di real life secara tatap muka langsung. Yup, hari ini pertemuan mengharukan itu akhirnya terjadi. Kenal dari 2015 dan alhamdulillah ketemu di 2024. Ternyata kita udah kenal hampir 9 tahun lamanya. Bener-bener gak sadar kalau udah kenal lama.


Alhamdulillah. Rasanya hari ini hatiku penuh sekaliii. 


Selain senang karena perjumpaan ini. Aku juga jadi banyak merenung. Lalu akhirnya tumbuh rasa syukur juga dalam dadaku yang mungkin dulu enggak pernah aku mengerti tentang rencana Allah atas pilihan-pilihan hidupku di masa itu. 


Ternyata meskipun belum rezeki ke Jerman, tapi akhrinya aku nemuin juga jalan hidup yang sekarang aku jalani dengan lebih lapang. 

Mungkin kalau dulu aku jadi pergi ke Jerman dalam keadaan penuh luka dan trauma, aku lebih enggak bisa bertahan kali. Apalagi kan harus jauh dari orang tua, teman, sahabat, orang-orang yang aku kenal, dan lingkungan yang familiar. Di saat diriku sendiri aja belum siap untuk ajeg sendiri tanpa kemelekatan.


Belum lagi mungkin kalau dulu jadi pergi pun Aku gak akan ketemu jalan untuk healing dan akhirnya menyadari apa-apa saja yang harus aku selesaikan di dalam kehidupanku yang saat ini. 


Setelah aku telaah juga, dulu ambisiku ke Jerman juga niatnya gak setulus itu juga yaa. Bukan dalam rangka kebaikan diri, tapi malah untuk melarikan diri dari hidup sendiri. Hahahaha. 


Iyaa, dulu ternyata Aku hanya ingin melarikan diri dari hidupku yang saat itu banyak luka & trauma yang enggak pernah aku tau cara menghadapi dan menyembuhkannya seperti apa. Aku cuma pengin pergi sejauh-jauhnya dari Indonesia yang mengingatkanku pada banyak memori dan orang-orang yang belum bisa aku maafkan. 


Ditambah aku juga menyadari kalau aku tuh enggak suka belajar lewat jalur pendidikan formal dengan aturan yang ribet dan lingkungan yang penuh kompetisi. Itu juga yang memicu tekanan ke aku juga karena aku dipaksa untuk mengikuti hal yang bertentangan dengan hatiku. Bukan aku bilang kalau pendidikan formal jelek atau gak penting ya, tapi justru aku telat menyadari aja kalau ternyata hal itu juga cocok-cocokan. Mungkin metode belajarnya aja yang saat itu ternyata kurang cocok di aku. 


Dibilang gak suka belajar juga sebenernya enggak. Malahan aku tuh hobi belajar, ditambah emang punya rasa ingin tahu yang besar juga. Cuma ternyata aku termasuk yang lebih suka belajar dari pendidikan informal dan lebih banyak praktiknya kayak di workshop-workshop gitu. Ditambah belajar jalur praktik langsung di kehidupan nyata. Inilah yang lebih terasa nyaman juga buatku. Jadi, gak hanya teori aja. Namun, sekaligus praktiknya juga.


Memang yaa, kadang inilah yang luput aku sadari juga. Kalau ternyata Allah benar-benar memberikan apa yang hambaNya butuhkan dibandingkan apa yang diinginkan hambaNya. Ditambah apa yang diberikan olehNya lebih dari pada cukup. Semalam juga aku nemu quote bagus yang kalimatnya begini:


"Kadang dunia membawamu pada hal-hal yang belum kamu punya sampai akhirnya kamu lupa artinya bersyukur. Padahal jika kita syukuri ternyata Allah memberikan lebih dari cukup."


Alhamdulillah, satu hal lagi yang aku pelajari hari ini. Bermula dari Trier, berjumpa di Jakarta Selatan. Pengalaman ini pun kembali mengingatkanku tentang betapa hebatnya arti sebuah proses perjalanan hidup. Apa pun yang terjadi dalam hidup memang sudah seharusnya terjadi seperti apa adanya. Serta aku juga kembali diingatkan kembali betapa pula besarnya kasih sayang dan cinta Allah pada hambaNya.💚

Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke hello.mitaoktaviacom@gmail.com

Posting Komentar untuk "Bermula di Trier, Berjumpa di Jakarta Selatan"