Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Asyik Lindungi Generasi Muda dari Infiltrasi Radikalisme dan Ekstremisme

lindungi generasi muda dari infiltrasi paham radikalisme dan ekstremisme di game onlie

Di era digital seperti sekarang ini segala informasi yang tersedia dan cara kita dalam berteknologi dengan mudah dicapai, termasuk untuk bertemu dan berjejaring dengan orang lain. Kamu bisa menjangkau orang-orang dari daerah lain di wilayah Indonesia hingga menembus ruang dan waktu dengan orang-orang dari negara lain juga. Dulu mungkin kita hanya mengenal cara bertemu dengan orang lain dari berbagai tempat di ruang digital cuma lewat sosial media, tapi sekarang juga bisa lewat game online. Hal itu memudahkan kita untuk bertemu dan berjejaring antarpemain lewat aksi main bareng atau biasa disebut mabar.



Upaya Navigasi Moderasi di Era Digital untuk Melindungi Generasi Muda dari Infiltrasi Ekstremisme Lewat Talkshow dan Diskusi Lintas Komunitas 


Kedekatan dan ketertarikan pada game online menguatkan niat dan tekad penuh semangat aku ikut dalam acara Mabar Ramadan bareng Subdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik Direktorat Urusan Agama Islam, Kementerian Agama Republik Indonesia. Mabar Ramadan ini membawa tema tentang Navigasi Moderasi di Era Digital: “Melindungi Generasi dari Infiltrasi Ekstremisme”.


Saking semangatnya, aku sudah berangkat dari rumah jam 10.00 WIB dan sampai di lokasi acara jam 11.00 WIB. Meskipun lokasi aku dan acara ini sama-sama di Bogor, tapi ini pertama kalinya juga aku masuk ke dalam Pusat Literasi Keagamaan Islam unit Pencetakan Al-Qur'an yang ada di Ciawi, Bogor. Mabar bersama para content creator, blogger, dan komunitas remaja dilakukan di Auditorium lantai 4 yang dikemas dengan hangat dan santai meskipun bahasan topik yang dibahas serius.


Sebelum masuk Auditorium, aku dan peserta lainnya  registrasi lebih dulu di depan. Setelah semua peserta serta para petinggi di Kementerian Agama RI yang diundang sudah hadir lengkap di ruangan, acara pun dimulai sekitar jam 14.35 WIB. Pertama-tama, dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan oleh sambutan dari Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, Dr. H. Arsyad Hidayat, Lc., M.A. 


Sambutan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam Kemenag RI, Dr. H. Arsyad Hidayat, Lc., M.A.

Di dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya partisipasi dan ruang dialog bagi generasi muda. Apalagi dakwah dan edukasi tentang keagamaan tidak bisa dilakukan hanya satu arah dan pada satu pihak saja. Perlu adanya kolaborasi dan pendekatan yang relevan dan kreatif dengan berbagai pihak, termasuk di dalamnya partisipasi juga dari generasi muda yang menggunakan ruang digitalnya untuk menyebarkan nilai toleransi dan empati dalam beragama sehingga lahirlah sikap hidup yang relevan dan kontekstual.


Sambutan dari Dirjen Bimas Islam, Kemenag RI, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag


Kemudian dilanjutkan oleh sambutan dan pesan dari Dirjen Bimas Islam, Kemenag RI, Prof. Dr. H. Abu Rokhmad, M. Ag yang sempat membahas kalau generasi muda pastilah memiliki keimanan dalam beragama, tetapi cara dan metode pendekatannya berbeda dengan generasi lainnya.


Generasi muda merasa sudah lebih paham perihal kewajiban, tidak terlalu suka ditekan tentang apa yang harus dilakukan. Peran generasi di atasnya, termasuk orang tua untuk terus memperhatikan ruang digital generasi muda agar tidak terjebak dalam penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme. Apalagi ternyata infiltrasi paham tersebut sudah sampai pada permainan online, tidak terbatas ada media sosial dan ruang diskusi online saja.



Setelah jeda istirahat dan salat, acara kembali dilanjutkan dengan talkshow interaktif bersama Kang Eki dari Badan Nasional Penanganan Terorisme, Densus 88 POLRI dan pakar keamanan siber Kang Pipit dari Maarif Institute yang dipandu Kang Syafaat, Ketua Sub Tim Penanganan Konflik Keagamaan, Subdit BPKI-PKK Direktorat Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Kemenag RI.


Kang Syafaat Ketua Sub Tim Penanganan Konflik Keagamaan, Subdit BPKI-PKK Direktorat Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Kemenag RI.


Sebelum dimulai, Kang Syafaat membuka sesi dengan memberikan gambaran kalau Generasi Z dan di bawahnya sudah terbiasa dibesarkan oleh teknologi sehingga generasi muda pola dalam beragamanya itu ke arah asyik bukan lagi dalam pola yang kaku. Namun, tantangannya untuk menarik keberagamaan dan kesesuaian dengan syariat islam itu bisa seasyik seperti scrolling sosial media yang sampai membuat lupa waktu. Kalau caranya tidak asyik jadi terasa menjauhkan dari agama karena dinilai terlalu judgmental. Jadi, harus disampaikan dan disiarkan dengan cara yang asyik. 


Menurutnya, ciri generasi muda itu punya kepedulian yang tinggi kepada orang yang berbeda dan pada isu lingkungan. Mereka menghormati berbagai macam perbedaan sehingga bagaimana hal itu bisa masuk ke dalam konten-konten yang dibuat. Dengan kolaborasi juga diharapkan generasi muda bisa menjadikan agama sebagai pondasi moral yang asyik.


Bagi Kang Syafaat, generasi muda punya tingkat kesopanan yang baik pada sesama. Tentu saja apalagi ke yang Maha Kuasa harus super sopan lagi. Generasi muda tidak lagi kompetisi, tapi kolaborasi.


Game online: Dunia Digital Tanpa Sekat yang Rentan Infiltrasi Ekstremisme


Perihal dunia tanpa sekat di ruang digital ini, aku ingin sedikit bercerita tentang pengalamanku. Aku termasuk yang suka sekali bermain game online, dari mulai game di console yang dimainkan di Nintendo dan Playstation hingga game open world dari handphone dan laptop yang bisa dimainkan online bersama teman dari wilayah lain di Indonesia hingga teman asing dari mancanegara.





Aku mulai bermain game sejak masih di Sekolah Dasar lalu aktif kembali bermain semasa pandemi di 2020 lalu, saat pergerakan fisik terbatas, tetapi malah aku seperti menemukan dunia baru di ruang digital yang tanpa sekat dan batas. Ada satu game online yang membuatku bisa bertemu dan sering mabar dengan teman dari wilayah United States (US) dan United Kingdom (UK) yang perbedaan waktunya dengan Indonesia dari 6 jam hingga 12 jam. Jadi, game online bukanlah dunia yang baru untuk aku, di sana dunia baru yang membuatku menemukan keseruan dan keasyikan dengan orang yang memiliki minat dan hobi yang sama denganku.


Ternyata pengalaman ini sejalan dengan bahasan di dalam talkshow yang ada di acara Mabar Ramadan ini yang membahas tentang infiltrasi ekstremisme dalam game online juga. Talkshow pertama dibuka oleh Kang Eki yang memberikan gambaran tentang pola penyebaran ideologi radikal di kalangan generasi muda yang dipengaruhi game online dan media sosial.


Kang Eki dari Badan Nasional Penanganan Terorisme, Densus 88 POLRI
Kang Eki dari BNPT Densus 88 POLRI


Fase awal dari yang pola radikalisme terjadi di sosial media pada 2024 ini menyasar individu yang ingin memahami ajaran islam dan mencari identitas diri di mana sosial media yang biasanya digunakan saat itu Facebook & Instagram, lalu menyebar ke Telegram dan WhatsApp. Pada saat itu, pola penyebaran ideologi radikal masih menyasar generasi millenials dan di atasnya. Sementara itu, di 2025 sasaran utama penyebaran ideologi radikal ini mulai bergeser ke Gen Z dan di bawahnya melalui sosial media TikTok, game daring, dan situs bermuatan kekerasan dan ekstrem (gore sites).


Pemaparan pun dilanjutkan oleh Kang Pipit yang menurutku lumayan menarik juga karena membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ekstremisme di dunia digital yang dikenal sebagai 3P, sebagai berikut:

  1. Pendorong (Push) dari lingkungan, ekonomi, keluarga, ketidakadilan, keyakinan.

  2. Penarik (Pull) yang berasal dari ajakan menarik, imbalan materi, janji surga, prestise.

  3. Personal yang berasal dari psikologi, trauma, kesepian, galau, dll.


Kang Pipit dari Maarif Institute menjabarkan kasus perundungan di Kubu Raya
Kang Pipit dari Maarif Institute


Kang Pipit sharing pengalamannya pernah terjun lapangan mengambil bahan riset perihal ekstremisme ini ternyata faktor yang mempengaruhi seseorang remaja terpapar hal tersebut dari perundungan yang diterimanya. Kang Pipit memberikan contoh saat datang di Kubu raya di mana ada siswa kelas 2 SMP mendapatkan tindak perundungan dari temannya, tetapi tidak bisa membalasnya.


Dari sudut pandang anak remaja itu muncul pemikiran ekstremisme untuk mengebom temannya biar kelihatan gagah dan supaya bisa mengalahkan temannya yang sudah melakukan tindakan perundungan itu. Jujur saja saat mendengarnya rasanya ikutan miris sebab ternyata dari perundungan yang didapatkan seseorang pun bisa melahirkan pemikiran ekstremisme seperti itu. 


Namun, hal itu juga sesuai dengan yang dipaparkan oleh Kang Eki dari BNPT Densus 88 di sesi sebelumnya yang menyoroti anak-anak yang terpapar ideologi radikal ini berasal dari latar belakang lingkungan yang tidak utuh (broken home), pola pengasuhan yang abai dan kurang memberi perhatian, mengalami pelecehan seksual dan mendapatkan tindakan perundungan.



Cara Asyik Melindungi Generasi Muda dari Infiltrasi Ekstremisme dan Radikalisme


Pencegahan Radikalisasi Ektremisme Kekerasan Pada Remaja dan generasi Muda dengan cara yang asyik

Peran aktif orang tua dalam mendidik anak-anak itu masih sangat diperlukan. Orang tua tidak bisa serta merta menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab untuk mendidik anak-anak itu pada lembaga lain, misalnya pada lembaga pendidikan. Orang tua juga enggak bisa hanya mengawasi, tetapi harus adaptif dengan berusaha ikut masuk di dalam ruang digital yang biasa digunakan anak-anak mereka, misalnya saja di media sosial dan permainan digital.


Tanggung jawab dan peran ini juga harus dilakukan lewat kerjasama dari berbagai pihak dalam menyediakan “pasar” bagi generasi saat ini dalam tontonan, konten dan game online juga diperlukan. Berbagai kejadian yang terjadi perihal infiltrasi ekstremisme dan radikalisme menandakan kegagalan semua pihak dalam menyediakan hal itu sehingga perlu dibentuk dan diusahakan ruang perjumpaan dan kolaborasi yang bisa diakses adik-adik dan anak-anak.


Selain itu juga, diperlukan partisipasi aktif dari para kreator muda dalam menghasilkan konten yang bukan hanya berbuah “materi”, tetapi tetap enggak melupakan tujuan untuk ikut bertanggung jawab dalam keadaban publik yang juga masih related dengan memanfaatkan algoritma di sosial medianya.


Sebagai generasi Z dan di atasnya juga perlu menciptakan ruang, situasi dan lingkungan aman yang mendorong keterbukaan anak-anak (Gen Alpha dan di bawahnya) tidak hanya pada kegiatan, tapi juga apa yang mereka rasakan dan alami. Pentingnya juga untuk kita terbuka dan mau mendengarkan cerita, sudut pandang, dan pemikiran mereka sehingga mereka tidak mencari pelarian ke hal-hal yang di luar dari kontrol kita.


Perihal peran aktif sebagai orang tua sekaligus kreator di sosial media juga sudah mulai aku lakukan untuk melindungi generasi di bawah aku ini dimulai dari kembali aktif lagi di game online. Enggak cuma memantau dan mengawasi, tapi aku ikut masuk ke dalam dunia bermain mereka dengan membuat akun dan mabar di berbagai permainan. Hal ini aku lakukan agar aku tau gambaran gamenya seperti apa. Aku ambil contoh game roblox karena keponakanku suka bermain itu.


Awalnya aku penasaran, tapi ternyata terjun jauh di dalam dunia roblox mengubah sudut pandangku. Kupikir di dalam game itu punya potensi ruang positif dalam upaya melindungi generasi muda dari Infiltrasi Ekstremisme dan Radikalisme dengan cara yang asyik, kreatif dan relevan dengan generasi muda. 


Ternyata di dalam game roblox ini ada berbagai game yang bisa diulik seperti eksplorasi naik gunung yang mengajarkan tentang kerjasama antar sesama pemain di setiap tantangan hingga bisa sampai ke titik terakhir (summit) dari permainan naik gunung itu. Selain itu, belakangan juga aku menemukan pengembang asal Malaysia dan Indonesia yang membuat game bertema keagamaan islam yang di dalamnya ada masjid dan ruang kajian online


game roblox religi islami masjid at taubah
Game Roblox Masjid At-Taubah



Ada pemain yang menggunakan game itu untuk mengaji bersama dan ikut dalam kajian yang dibuat suatu komunitas islam. Bahkan, terakhir di minggu lalu ada konser online islami dari penyanyi religi Hadad Alwi yang ada di salah satu game. Jadi, aku rasa ini langkah baik yang bisa kita kembangkan untuk menghadirkan ruang digital yang mendukung kolaborasi dan penyajian konten yang solid dan mendukung tauhid maslahat, khususnya dalam agama islam.


Jelajahi sejarah Islam & Al-Qur'an di museum dan Galeri Pusat Literasi Keagamaan Islam Unit Pencetakan Al-Qur’an


Selesai dari acara talkshow dan diskusi bareng, di acara Mabar Ramadan kemarin, aku dan peserta lainnya pun diajak untuk berkeliling dan menjelajahi sejarah islam & Al-Qur'an lewat seni modern imersif dan seni lukis. Pertama-tama, aku datang ke ruang sejarah dan budaya yang membahas tentang sejarah islam di nusantara. 


Pameran imersif sejarah islam kerajaan samudera pasai di Unit Percetakan Al-Qur'an Ciawi
Pameran Imersif Kerajaan Islam Samudera Pasai di UPQ Ciawi

      Kerajaan islam pertama yang hadir di Nusantara adalah Kerajaan Samudera Pasai berdiri pada abad ke-13 yang didirikan oleh Sultan Malik Al-Saleh yang menguasai Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai komoditas utamanya. Kemudian diteruskan oleh putranya, Sultan Muhammad Malik Az-Zahir. Kerajaan ini tumbuh sebagai pusat studi islami dan di masa ini pertama kalinya dikenalkan koin emas atau dirham sebagai mata uangnya. 


         Setelah itu, kerajaan ini diteruskan oleh Sultan Mahmud Az-Zahir yang menjadi kerajaan dagang yang maju dengan berbagai pedagang dari India dan Cina sebagai pembelinya.


Mula-mula aku diperkenalkan dengan kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di Nusantara lewat seni imersif visual-audio yang ada di layar dengan warna gambar dan informasi yang menarik. Lalu ada pula layar-layar yang menayangkan informasi tentang kerajaan-kerajaan Islam yang ada di Nusantara.


Kesultanan Demak jadi kerajaan islam pertama yang ada di Jawa
Kerajaan Islam Pertama di Jawa, Kesultanan Demak


Langkah kakiku berhenti di informasi tentang kerajaan islam yang pertama kali berdiri di tanah jawa adalah Kesultanan Demak. Kerajaan ini berdiri di akhir abad ke-15 dengan Raden Patah sebagai pimpinannya.



Selain itu, ada lagi informasi tentang kerajaan lainnya seperti Kerajaan Sumatera, Kesultanan Yogyakarta, Kesultanan Dermayu, Kesultanan Cirebon, Kesultanan Mataram.



Enggak cuma menjelajah dan belajar tentang sejarah kerajaan islam di Nusantara, aku juga berkeliling ke galeri yang memajang koleksi tentang sejarah Al-Qur’an dari saat awal hingga saat ini. 






Sisi menarik yang aku temukan juga saat melihat ada Al-Qur’an dari masa lampau hingga adanya akses Al-Qur’an dengan Huruf Braille dan Al-Qur’an yang menggunakan huruf dari bahasa isyarat SIBI. Ini yang membuatku kagum sebab ternyata perkembangan zaman ini melahirkan kemudahan akses agar semua kalangan bisa punya akses membaca dan melafalkan Al-Qur’an dalam berbagai kondisi apa pun. 


Al Qur'an huruf braille dan huruf bahasa isyarat SIBI di UPQ Ciawi
Al Qur'an huruf bahasa isyarat SIBI & huruf Braille


       Puas berkeliling melihat tentang sejarah Al-Qur’an, aku dan yang lainnya lanjut masuk ke Ruang Baca dan Tulis yang di dalamnya banyak buku-buku islami dan kursi yang disusun rapi dan bagus. Jadi, spot baca yang menarik!





Dari ruang itu, aku lanjut melihat karya seni lukis kaligrafinya yang juga cantik-cantik. Kaligrafi sudah menjadi seni yang menonjolkan pada keindahan garis dan struktur hurufnya. Ditambah paduan warna-warni yang menarik membuat karya seni ini sangat indah dinikmati, terutama bagi pecinta seni lukis dan kaligrafi.





      Sambil ngabuburit, aku dibuat takjub dengan sejarah islam, Al-Qur’an, dan karya seni lukis dan kaligrafi yang dipamerkan di Pusat Literasi Keagamaan Islam (PLKI) Unit Pencetakan Al-Qur’an ini. Tanpa sadar, waktu berbuka puasa pun tiba. Setelah puas berkeliling, mengenal, belajar, dan menikmati karya seni yang ada, aku dan yang lainnya berbuka puasa bersama. Aku dan yang lainnya menikmati sajian menu berbuka sambil mengobrol hangat bersama.




          Selesai iftar bersama lalu dilanjutkan salat maghrib dan foto bersama deh sebagai bukti memori baik yang sudah aku jalani di hari itu. 


       Alhamdulillah seluruh kegiatan telah selesai dilakukan. Aku dan yang lainnya bukan cuma membawa cerita, pengalaman, insight yang bagus dan berguna bagi kami pribadi, kami juga membawa sebuah misi untuk terus menyiarkan konten yang berdampak bagi kemashlahatan umat juga.


content creator dan blogger di acara Kemenag RI di acara Mabar Ramadan navigasi moderasi di era digital
Bersama content creator, blogger, dan remaja peduli bangsa


Nah, buat kamu yang ingin mendapatkan update informasi terbaru dan mau belajar lebih tentang isu moderasi keberagamaan, toleransi dan penanganan konflik khususnya dalam agama islam jangan lupa yaa untuk follow akun instagram dari Sub Direktorat Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik di @bpkiurais.


Last but not least, kamu juga bisa follow akun instagram Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah di @urusanislam buat dapat informasi dan belajar islam serta kegiatan seru yang bisa kamu ikuti juga. Sampai bertemu di kegiatan seru yang bermanfaat dan berdampak lainnya yaa, Teman-teman. Insyaallah. 👋🏼


Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke hello.mitaoktaviacom@gmail.com

Posting Komentar untuk "Cara Asyik Lindungi Generasi Muda dari Infiltrasi Radikalisme dan Ekstremisme"