Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pohon Mangga yang Tertebang Duka itu Memilih Bertunas Kembali

Memproses duka dan kehilangan

10 Agustus, di jam 23.23, algoritma Threads menghentikan jariku yang tengah asyik menggulir layar handphone. Aku tertegun lama melihat sebuah utas dari seorang psikolog bernama Iswan Saputro yang membahas perihal Grief Awareness Month: Growing Around Your Loss. Pada slide kedua gambar yang dipostingnya, Iswan menuliskan kalimat yang membuat ragaku seperti dipeluk kehangatan bapak yang telah lama aku rindukan.

 

“Duka bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons alami dari cinta yang kehilangan tempat.”

 

Konten yang membahas topik tentang duka dan kehilangan seperti itu bukan yang pertamanya lewat di beranda sosial media. Sejak berduka memang banyak konten dengan tema serupa yang menyapa. Aku sering berdiam lama untuk membaca dan meninggalkan komentar sekadar menyetujui, memberi penghiburan, maupun meluapkan perasaan kehilangan yang masih basah oleh duka. Tapi baru pada utas tentang bulan kesadaran duka cita yang ternyata jatuh di bulan Agustus ini lalu kubaca isinya di malam itu, aku seperti merasa ditenangkan dan didengarkan dalam diam. Saat masih merasakan sedihnya kehilangan dan duka mendalam ternyata bukanlah sebuah kegagalan. Setiap yang hadir, dirasakan, maupun diolah adalah bagian proses bertumbuh dalam usaha untuk melepaskan dan mengikhlaskan.

 

Di dalam utasnya juga, Psikolog Iswan juga menuliskan perihal The Spiral of Grief—yang lebih masuk di dalam kondisi yang aku alami dibanding hanya seperti naik turun tangga seperti teori di dalam Five Stages of Grief. Katanya, proses berduka ini lebih seperti sebuah spiral yang terus berputar dengan hadirnya emosi yang datang pun bergantian peran. Kadang-kadang hari ini sudah bisa merasa bahagia dan tertawa lepas tanpa beban, lalu keesokan harinya ada serangan sesak dan kesedihan mendalam yang datang kembali menghampiri. Pada setiap perputaran spiralnya membuat proses penerimaan dengan mengizinkan semua perasaannya berulang berkali-kali tanpa harus merasa gagal untuk pulih.

 

Pada hampir tengah malam, aku hanya bisa tercenung. 400 hari setelah bapak berpulang ke rahmatullah, aku baru menemukan jawabannya. Perihal kondisi emosi yang aku alami dan rasakan semasa berduka yang terus berputar sampai menuju kata penerimaan dan mengikhlaskan. Setelah bolak balik dalam pergulatan emosi dan kondisi sedih~marah~menyesal~rindu~bingung~penyangkalan~menyalahkan diri sendiri~ menerima~mengikhlaskan~senang sampai kembali lagi pada kesedihan yang mendalam saat tiba-tiba teringat momen bersama bapak. Sungguh rasanya tersiksa saat rasa sedih mendalam itu hadir, sampai-sampai aku pernah berharap tiba-tiba aku amnesia—agar bisa melupakan rasa kehilangan cinta pertama dalam hidupku itu. Aku sempat merasa gagal untuk pulih karena merasa masih sedih saat mengingat bapak dan belum bisa mengingat bapak dalam senyuman, bukan lagi air mata. Utas itu memberi pelukan hangat sekaligus jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang masih menjadi teka-teki cara pulih dan berhasil memproses duka.


***

 

Berbicara perihal duka dan kehilangan orang yang berharga di dalam hidup aku sebetulnya bukan yang pertama kali aku rasakan. Aku telah mengalami berkali-kali kehilangan; kehilangan kakak laki-laki pertama, kehilangan kucing-kucing yang aku sayang, kehilangan orang yang aku sukai, kehilangan teman, kehilangan handphone kesayangan, dan kehilangan-kehilangan lainnya. Tapi kehilangan orang berharga di hidupku untuk selama-lamanya baru secara sadar aku rasakan dampak besarnya di aku untuk pertama kalinya saat usia remaja. Semasa kelas 10 di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dahulu, aku pernah kehilangan satu-satunya sahabat dekat perempuan di kelas yang aku miliki. Sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya yang membuat aku sempat merasa trauma pada aliran air yang mengalir deras. Membuatku menarik diri dari lingkungan hingga kesulitan untuk dekat dengan orang lain. Aku takut ditinggal orang meninggal lagi. Aku takut kehilangan lagi. Proses ini pun tidak mudah, aku sampai kesulitan di sekolah dan sempat menjadi orang yang harus diperhatikan khusus oleh guru-guru.

 

Pada saat itu, untuk pertama kalinya aku percaya kalau waktu menyembuhkan. Setelah dua tahun bergelut memproses duka dan kehilangan serta berkat dukungan teman-teman laki-laki aku di kelas, sahabat dekat serta wali kelas membuat aku bisa kembali bangkit. Pelan-pelan aku menata hidupku lagi, pelan-pelan aku membuka diri pada orang lain lagi, aku mulai berhenti menangis dan meratapi kepergian sahabat terbaikku. Nilai-nilai aku di sekolah pun kembali membaik hingga lulus sekolah aku berhasil melepaskan dan mengikhlaskan kepergiannya.

 

Kurasa di dalam hidup selalu saja ada hal-hal pertama di dalam hidup yang harus kamu alami dan rasakan untuk membuat dirimu berkembang. Ibaratnya seperti sedang berada di kelas. Bedanya, ini adalah sekolah kehidupan dan setiap jiwa punya kurikulumnya masing-masing. Belakangan aku sadar kalau kurikulum jiwa aku perihal melepaskan keterikatan pada suatu hal; orang, benda, tempat, hewan peliharaan, momen. Aku sering mengenggam semua hal dan sulit melepaskan. Aku selalu terikat pada rasa memiliki—dan itulah yang membuatku kesulitan saat dihadpkan pada ujian kehidupan lewat kehilangan dan duka cita.


***

 

Kurikulum jiwa perihal melepaskan hewan kesayangan sudah, benda kesayangan sudah, sahabat kesayangan juga sudah. Meski sama-sama-sama kehilangan, tapi kehilangan sahabat berbeda sekali rasanya dengan kehilangan keluarga. Rasanya tetap menjadi perasaan asing dan aneh yang sulit dihadapi. Aku ingat beberapa tahun sebelum kehilangan bapak, salah seorang teman yang aku kenal dari komunitas blogger pernah bercerita padaku perihal betapa beratnya proses berduka yang di alami saat kehilangan papanya. Menurutnya meski bertahun-tahun berlalu, dukanya tetap ada.

 

“Seiring berjalannya waktu perlahan memang dirimu membaik, tapi pada akhirnya kamu hanya terus tumbuh dengan duka itu. Kamu membaik karena kamu mulai merasa bisa berdamai dengannya.”

 

Aku masih ingat kalimat itulah yang dia ucapkan padaku. Saat itu, aku kurang paham rasanya seperti apa. Belum pernah aku kehilangan orang tua untuk selama-lamanya dan aku selalu berdoa pada Allah untuk memanjangkan dan memberi sehat selalu pada kedua orang tuaku. Meski kehilangan Bapak Eyang jadi pukulan telak ke sekian yang datang menghampiri hidupku, tetap saja aku tidak paham rasanya kehilangan orang tua.

 

Jenis kehilangan satu ini menjadi ketakutan terbesarku sepanjang hidup. Aku takut kehilangan Mama dan Bapak untuk selamanya. Tidak mau, membayangkannya saja pun enggan. Setiap malam, diam-diam aku mengintip ke kamar dan menatap lama tubuh orang tuaku yang tertidur lelap. Aku memperhatikan perut mereka yang mengembang mengempis diiringi napas mereka yang teratur. Setelahnya aku merasa lega karena mereka masih bernapas dan masih bisa hidup lebih lama untuk menemani perjalanan hidupku. Tapi tidak menyangka bila di 9 Juli 2025, ketakutan aku mewujud nyata saat aku kehilangan bapak untuk selamanya.

 

Aku sempat lupa kalau sebuah keniscayaan dari kehidupan adalah kematian. Aku lupa kalau semua hal yang ada di dunia dan seisinya hanya sebuah titipan Allah SWT. Kehilangan menghampiriku kembali. Rasanya tetap sama; menyakitkan. Pada momen kehilangan kali ini aku harus merelakan bapakku untuk pulang ke rahmatullah setelah menemani perjuangan bapak untuk sembuh di ICCU.


Siapa yang sangka kalau rasa sakit atas duka paling hebat justru saat kehilangan Bapak sendiri. Sejak bapak berpulang sampai genap 1 tahun di Juli 2026 kemarin, aku sudah lelah menyalahkan diri sendiri. Sudah capai juga diburu-buru orang buat cepat ikhlas, move on dan melupakan. Padahal hati masih berusaha buat memproses dan menerimanya.


Aku memang memutuskan memproses dukanya sendiri karena merasa masih sanggup menghadapinya meski harus bolak-balik menangis, tertawa, menangis, tertawa, repeat sampai seperti hampir kehilangan kewarasan. Pernah di suatu waktu, aku sudah tidak kuat rasanya menahan sedihnya kehilangan dan duka kehilangan bapak ditambah burn out yang datang dari tekanan di pekerjaan. Di saat itulah, pernah terpikir olehku menyerah untuk melanjutkan hidup. Setiap sepulang kerja persis saat menunggu kereta menuju Bogor di peron stasiun Sawah Besar, berkali-kali aku memikirkan skenario menakutkan itu untuk mengakhiri hidup. Selama 6 bulan lamanya, aku bergelut dengan pikiran itu serta deru mesin kereta jarak jauh yang lewat.

 

Setiap keinginan itu mulai mendesak diriku seperti selalu berkata, “ayo lakukan, ayo lakukan. Sehabis ini kamu tidak akan lagi merasa sakitnya kehidupan lagi”. Di saat bersamaan, sebanyak itu juga sekelebat ingatan bapak selalu muncul di dalam ingatan. Wajah teduh bapak yang aku rindukan berhasil membuatku kembali tersadar. Aku menangis karena bisa menang. Sisi terdalam dari diriku yang sebenarnya sungguh-sungguh ingin tetap hidup berhasil menggagalkan skenario-skenario menakutkan itu. Aku bersyukur karena Bapak terus berhasil menyelamatkanku.


Sebetulnya dalam memproses duka, aku tidak diam saja, aku sudah berkali-kali mencoba melakukan semua yang aku bisa. Berdoa, menangis, menulis, bercerita pada orang lain, ikut berbagai webinar, belajar banyak hal, melakukan banyak kegiatan menyenangkan, dan self healing. Tapi semua seolah gagal membuatku merasa kembali hidup. Rasanya aku seperti tetap layu dan menolak mekar kembali. Saat itu aku merasa semua tidak memahami betapa sakitnya kehilangan yang aku alami. Semua hanya sibuk memaksaku untuk cepat-cepat kembali baik-baik saja. Seolah kehilangan dan duka yang aku rasakan tidak penting untuk dirasakan. Seolah masih menangis, sedih, dan terus mengingat Bapak aku gagal mengikhlaskan. Tidak sedikit juga yang seolah menyalahkan berbagai yang terjadi padaku. Harusnya tidak begitu, harusnya jangan begini, dan berbagai harusnya. Percayalah, aku pun sudah capek menyalahkan diri sendiri saat kehilangan Bapak.


Meski sulit sekali rasanya, tapi aku tetap berjalan. Meski terseok-seok, aku tetap melanjutkan kehidupan. Sampai lah pada satu titik, jawaban dari segala tanya yang aku ulang-ulang pada diriku dan beberapa orang itu akhirnya datang padaku. Ia menemuiku yang hampir kering karena terlalu lama dibiarkan layu. Setelah IdulAdha di tahun 2026 ini menjadi puncak kesedihanku kembali datang saat teringat kembali pada memori IdulAdha 2025 lalu. Pada saat itu, bapak masih membersamai keluarga ini. Aku masih diam-diam melihat Bapak di saf depan di antara para Bapak, remaja laki-laki dan bocah laki-laki.


Kerindungan bapak yang tidak bisa lagi terbendung membuat pertahanan diriku runtuh. Aku merasa hancur, lebih hancur daripada saat hari Bapak dimakamkan. Dua hari aku tidak berhenti menangis, mata dan mukaku sampai bengkak karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. Di hari kedua aku larut dalam kesedihan, pasanganku mengirimkan sebuah Dirrect Message (DM) di Instagram. Aku baca DM-nya pada pop up notifikasi, isinya informasi postingan sebuah webinar psikologi gratis bersama seorang psikolog bernama Muharini Auliya yang membahas perihal seni melepaskan.


***


Tanpa disadari, di dalam hidup, proses melepaskan tidak pernah benar-benar bisa kita hindari. Bahkan sedari kecil pun aku sudah mengenal proses melepaskan ini, misalnya saja saat disapih mama saat usiaku sudah dua tahun. Jadi, di dalam hidup, memang kita pasti akan mengalami proses melepaskan ini, berulang kali. Tentu saja, proses melepaskan ini erat kaitannya juga dengan kehilangan dan duka yang juga bisa dirasakan berulang kali juga di dalam kehidupan.


Psikolog Rini juga memberikan cara untuk berdamai dengan kehilangan dengan mengingat kebaikan dari orang yang meninggalkan kita dan meneruskan value-nya semasa hidup. Cara inilah yang akhirnya aku terapkan juga dalam memproses duka dan kehilangan. Webinar itu pun membuka wawasan serta memvalidasi kesedihan mendalam yang aku rasakan saat teringat tentang bapak di momen IdulAdha bulan Mei lalu ditambah di bulan itu pun mendekati hari kelahiran bapak. Entah bagaimana, berhari-hari aku merasa gloomy dan gampang menangis. Lalu akhirnya menjadi peserta itu memberiku jawaban juga.


Saat Psikolognya bilang, kalau proses penerimaan terhadap duka dan melepaskan menjadi sulit karena ada kedalaman cinta terhadap yang harus diikhlaskan. Proses perimaannya itu memang sakit, tapi jangan dihindari. Segala memori yang muncul harus diterima dan dirasakan. Justru kalau dihindari akan makin menyakitkan. Di saat itu aku sadar kalau aku masih sulit untuk melepaskan. Aku takut bapak hilang dari ingatan kalau aku melepaskan.

 

Setahun mengenang wafatnya bapak menjadi titik balik yang membuat aku menengok kembali ke belakang. Ternyata sudah sejauh itu aku berjalan. Sudah sejauh itu juga aku memproses duka dan bertumbuh dengannya. Hatiku pernah patah, diriku pernah layu, tapi ternyata diriku menolak untuk mati dan justru memilih bertunas kembali. Kehilangan bapak bukanlah akhir dunia. Duniaku sempat hancur dan rasanya diriku juga ikut terkubur bersama jasad bapak di tanah merah dekat pohon bambu. Tapi, Allah memilih aku sebagai petarung hebat dalam ujian kehidupan tentang melepaskan.


Pada meditasi bersama di momen full moon bulan Juli kemarin juga aku mendapati diriku juga sudah tumbuh membesar melingkari duka, belajar merangkul segala rasa yang hadir di dalam prosesnya secara utuh dan menemukan makna hidup yang baru. Saat meditasi dengan tema “momen terbahagia di dalam hidup”

 

Visual ingatan berbagai momen membahagiakan hadir silih berganti, tapi ternyata momen yang baru aku ingat kembali adalah momen saat aku, mama, dan bapak pergi ke tanah abang untuk membeli kebaya wisuda aku sekaligus kebaya mama, kemeja bapak dan adik serta jas untuk bapak.

 

      Kilasan berbagai momen itu kembali hadir dan terus berlanjut sampai digantikan oleh visual bapak tersenyum dengan bangga saat menyaksikan aku wisuda. Lalu pulangnya kami mampir ke studio foto untuk mengambil foto keluarga yang jadi foto keluarga pertama kali setelah dewasa terbaik.

 

Saat mengingat momen itu aku tersenyum, tapi menit berikutnya air mata sudah mengalir deras. Ternyata itu jadi momen membahagiakan dalam hidupku, tapi kok aku bisa lupa? Aku malah mengingat foto keluarga terakhir yang dipotret keponakanku bersama bapak yang sudah berbaring untuk selamanya tertutup kain batik itu dalam momen duka penuh haru dan air mata. Tidak ada lagi protes bapak yang menolak di foto, atau senyum ganteng bapak saat foto studio, dan senyum jahil malu-malu bapak saat berulang tahun. Foto itu penuh kekakuan, di depan bapak yang terbaring untuk selama-lamanya.

 

Selepas 365 hari bapak berpulang ke rahmatullah, sebanyak itu pula aku merasa sedih dan rindu saat mengingat bapak dalam kehilangan dan duka. Banyak air mata dan tangis yang selalu mengiringi saat mengingat Bapak. Setiap mendengar suara dan melihat bapak-bapak sepulang jum’atan, aku menangis. Sebab biasanya bapak ada di tengah-tengah mereka. Suara bapak mengobrol dengan para bapak itu terdengar, lalu tak lama suara pintu pagar dibuka dan diikuti ucapan, “assalamua’alaikum” serta aroma parfum bapak yang masih tercium. Aku rindu sungguh, pada hal-hal sederhana bahkan sepele yang dahulu tak pernah aku anggap berarti. 


Aku banyak menangis dan sebanyak itu pula aku merindukan Bapak dan ingin melihat Bapak kembali jutaan kalinya, setiap menitnya. Namun, saat meditasi itu, aku baru ingat kalau ternyata kenangan tentang bapak bukan hanya soal sakitnya kehilangan atau beratnya proses melepaskan dan mengikhlaskan yang berpadu dinginnya ruang ICCU kala menyaksikan pelan-pelan layar monitor mencapai angka nol. Ternyata ada banyak momen membahagiakan juga bersama bapak. Kenapa yang aku ingat hanya kesedihan sudah tidak bisa melihat bapak lagi? Sedihnya impianku pupus karena bapak tidak bisa menggenggam erat calon suami aku saat akad, bapak tidak bisa hadir dan duduk di pelaminan saat aku menikah nanti?  Aku hanya mengingat rasa hampa dan kosong saat tidak bisa lagi melihat bapak yang duduk menonton acara tv kesukaannya di ruang tengah atau bapak lah yang pertama kali menyambut saat aku buka pintu sehabis bekerja dan berkegiatan seharian di luar rumah.

 

Aku tidak tahu kenapa otakku hanya membentuk ingatan-ingatan sedih yang membuat seluruh tubuhku sakit fisik, mental, dan batin saat mendapati kenyataan kalau aku kehilangan bapak secara fisik–untuk selamanya. Aku berduka dan itu benar, aku kehilangan bapak secara fisik dan ya itu juga menyakitkan. Namun, aku tidak pernah benar-benar kehilangan bapak. Sebab selain ingatan-ingatan menyakitkan saat harus mengikhlaskan bapak di RSUD, tubuh bapak masuk liang lahat dan perlahan tanah-tanah merah menutupinya sampai jadi gundukan, ternyata aku masih memiliki bapak dalam ingatan paling membahagiakan di dalam hidup juga. 

 

Bapak akan tetap menjadi bintang di langit yang akan terus abadi bersama cinta yang aku miliki dan bapak akan terus bersama denganku dalam setiap memori baik, ajaran kebaikan, dan value hidup yang akan aku teruskan perjuangannya sampai akhir hayatku. Akhirnya aku benar-benar menyadari kalau kehilangan dan duka ini adalah caraku untuk semakin bertakwa dengan berprasangka baik pada setiap ketetapan takdir yang Allah berikan. Bapak tidak hanya menghadirkan cinta terindah seorang ayah, tapi juga mengajarkanku pula pada cinta tanpa syarat dari Sang Pencipta pada hambaNya. Mengikhlaskan bapak juga bentuk cintaku pada Allah. Aku kehilangan Bapak secara fisik, tapi Bapak terasa sedekat setiap embusan napasku. Layaknya Allah yang selalu memberi penjagaan meski tak pernah bisa aku lihat kehadirannya. Kepergian Bapak membuatku juga percaya kalau segala yang terjadi ini adalah takdir terbaik dari Allah. Bapak wafat melebihi usia Nabi Muhammad SAW, itu hadiah takdir terbaik yang sudah Allah berikan pada Bapak. Aku juga kembali belajar caranya melepas kemelekatan serta mencintai tanpa memiliki. Aku juga percaya pada janji Allah, “Bersama kesulitan, ada kemudahan”.


***


Setelah 419 hari kehilangan Bapak secara fisik dari hidupku, aku baru benar-benar baru bisa membagikan cerita perjalananku dalam memproses duka dan kehilangan. Aku memberi judul tulisan ini Pohon Mangga yang Tertebang Duka itu Memilih Bertunas Kembali setelah melihat pohon mangga depan rumahku yang ditebang sampai hanya menyisakan batang dan dianggap "mati", tapi ternyata dia memilih bertunas kembali lewat pucuk-pucuk daun mudanya yang merayakan kehidupan sekali lagi.


Aku sadar kalau tulisan ini mungkin masih banyak kekurangannya, tapi kuharap tulisanku menemukan kamu dengan tepat. Kamu yang mungkin sedang membutuhkan penguatan semoga tulisan ini juga bisa memberikan sedikit penghiburan kalau kehilangan yang dirasakan serta duka yang masih dibawa adalah sebuah proses bertumbuh dalam penerimaan bukan sebuah kegagalan dari mengikhlaskan. Berdukalah sepuasnya, lalu kembalilah melanjutkan hidup bersama value dari orang yang meninggalkan kita agar dia tetap "hidup" dalam hidup kita.


Tetap hidup ya kamu, walau tidak ada yang pernah bilang padamu, tapi aku mau kamu berjalan dan merayakan hidupmu. Sebab aku bangga pada setiap hal yang sedang kamu perjuangkan, dalam setiap luka, trauma yang kamu miliki setelah kehilangan.


Hari-hari mungkin tidak akan lagi sama, tapi aku yakin akan datang hari-hari yang menyenangkan dan membuat kamu akhirnya merasakan bahagia lagi. Setiap hal sementara, begitu pun perasaan dan duka kehilangan yang sedang kamu hadapi. Selalu ingat, selain Tuhan, keluarga, dan orang terdekatmu. Ada aku yang terus mendukungmu dalam diam.




Mita Oktavia
Mita Oktavia Lifestyle Blogger yang suka menulis, melukis, bermain game, dan bertualang | Penawaran kerja sama, silakan hubungi ke mitajagganim@gmail.com

Posting Komentar untuk "Pohon Mangga yang Tertebang Duka itu Memilih Bertunas Kembali"