Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menikmati Musim Gugur di Korea Selatan Bareng Traveloka

Traveling caraku menikmati musim gugur di korea selatan bareng traveloka


Sejak memulai self healing dengan meditasi pada Juli 2021, aku mulai lebih peka untuk mendengarkan suara hatiku. Termasuk apa yang paling aku inginkan dan membuatku paling bahagia dalam hidup. Mengikuti kata hati dan peka pada intuisi menuntunku menjalani hidup dengan jauh lebih ringan.



Aku berhenti memikirkan omongan orang lain yang menyakiti hati, berhenti merasa harus menyenangkan semua orang dengan mengorbankan perasaanku sendiri, berhenti terpengaruh oleh hal-hal di luar dari diriku yang tak bisa aku kontrol. Sebab, aku punya pilihan untuk mengontrol diri dan pikiranku sendiri. Memilah dan memilih hal-hal apa dan mana saja yang ingin aku dengarkan dan aku pikirkan. Fokusku hanya satu, pada diriku dan hidupku sendiri.



Salah satu traveling cara aku yang ingin diterapkan yaitu mindfulness traveling ke tempat yang paling aku impian, Korea Selatan. Keinginan itu hadir bukannya tanpa sebab. Melainkan hikmah dari pengalaman traveling sebelumnya. Aku pernah traveling bukan dengan caraku dan tidak hadir utuh pada perjalanan yang aku lakukan. Ternyata berdampak sekali dengan kesan yang aku dapatkan. Ya, pengalaman kurang menyenangkan. Bukan pada tujuan wisatanya, tapi pada satu dan lain hal yang terjadi di dalamnya.


Saat itu, egoku bermain dan mengontrol diriku. Rasa bosan yang terlalu mencekik karena  sudah lama berdiam diri di rumah akibat pandemi. Selain itu, sudah rindu sekali berkunjung ke alam. Akhirnya, aku dan pasanganku memilih open trip.


Ekspektasi pun dipupuk tinggi, tampak seru bisa melakukan perjalanan dengan orang baru. Namun, kenyataan selalu tak seindah harapan. Jadwal keberangkatan harus mundur dan berujung digabung dengan rombongan lain. Pada satu momen, traveling dengan cara itu seru saat bertemu dengan orang-orang yang sefrekuensi. Namun, bila tidak, rasa terasingkan sungguh tak bisa dihindari. Meskipun aku sudah berusaha untuk berbaur dan masuk ke dalamnya.


Terus terang, aku bukan orang yang anti pergi dengan banyak orang. Malahan seru rasanya saat pergi beramai-ramai. Aku pernah merasa senang saat pertama kali backpackeran ke Yogyakarta, pertama kalinya naik gunung ke Gunung Gede beberapa tahun silam dengan teman-teman SMK. Pengalaman mendaki pertama itu yang membuatku jatuh cinta pada gunung dan alam dan akan aku ceritakan lagi dalam postinganku kali ini.




Pendakian ke Gunung Gede Jadi Titik Awal Pelajaran Kehidupan dari Perjalanan


Dibesarkan dengan didikan bapak yang agak strict membuatku pernah tak bisa pergi dengan leluasa sesuka hati. Boro-boro traveling, pulang malam saja aku tak pernah direstui. Ada jam pulang ketat yang selalu bapak terapkan. Aku yang masih ABG saat itu tentu saja kesal, tapi aku yang sudah dewasa saat ini baru merasakan manfaatnya. Bapak mengajarkanku untuk belajar disiplin dan bertanggung jawab. Setelah dewasa aku juga mulai memahami pola pikir orang tuaku. Itulah cara mereka menjaga anak perempuannya tetap aman dan terlindungi.


Aku tak pernah diizinkan pergi jauh, tapi untuk pertama kalinya aku memberanikan diri izin untuk mendaki gunung. Meski agak sulit mendapatkannya, tapi akhirnya bapak mengizinkan. Mungkin bapak tau kalau jika anak gadisnya sudah punya kemauan kuat, tak ada yang bisa menghalangi langkah dan keinginannya lagi.


Aku juga memberikan pengertian pada bapak dan mama kalau aku pergi dengan teman-teman serta menunjukan tekad bulatku dengan latihan rutin olahraga untuk mempersiapkan diri. Aku juga memberikan pengertian pada mereka kalau Gunung Gede aman untuk pendaki pemula. Terlebih ada temanku yang juga pernah mendaki ke sana sebelumnya. Alhamdulillah, atas seizin Allah SWT, bapak, dan mama akhirnya aku bisa mendaki gunung untuk pertama kalinya.


Gunung Gede yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango memang tak terlalu jauh dari Bogor, tapi bukan pengalaman yang akan mudah dilakukan kapan saja, terlebih bila tanpa persiapan. Aku mempersiapkan diri dengan matang sejak 3 bulan sebelumnya. 


Saat mendaki ke Gunung Gede-Pangrango untuk pertama kalinya, aku merasakan titik batas kemampuan diri. Merasakan sejauh mana kaki dapat berjalan satu demi satu langkah menuju puncak. Berjalan, mengambil jeda, dan kembali melanjutkan perjalanan hingga sampai di puncak. Layaknya kehidupan, ada kalanya kita pasti merasa lelah karena harus terus berjalan menuju puncak tujuan; atas impian atau apa pun pencapaian dalam hidup. Namun, ada kalanya kita juga butuh mengambil jeda sebentar, mengambil napas dan kembali mengatur langkah kaki agar tujuan yang ingin kita capai dapat diwujudkan.


Tak hanya perihal melepas penat, merasakan bahagia serta mengagumi alam ciptaan Tuhan yang indah. Perjalanan pertamaku jadi titik awal pelajaran kehidupan yang diajarkan padaku lewat perjalanan. Pelajaran yang tak pernah aku dapatkan di sekolah maupun di rumah. 


Traveling betul-betul membuka wawasan dan cara pandang yang aku punya terhadap kehidupan. Makanya, tak salah bila aku akhirnya jatuh cinta dan terbuai dalam mengesankannya sebuah perjalanan dan pengalaman. Perjalanan mendaki ke Gunung Gede pun jadi titik awal aku bisa merasakan betapa membahagiakannya pilihan sendiri. Saat itu, aku bersyukur karena berani dan bertekad untuk mewujudkan keinginan mendaki gunung untuk pertama kali. Ya, meskipun dalam praktiknya harus melalui proses panjang.


Pendakian pertama ke gunung gede, gunung yang ramah pemula



Traveling ke Korea Selatan di Musim Gugur 


Aku ingat pernah melihat tayangan tentang negara asing di layar televisi saat kecil. Salah satu keunikan dari negara 4 musim yang sayangnya tak dimiliki negara tropis seperti Indonesia adalah adanya pergantian 4 musim. Dulu, musim dingin  menyita perhatianku. Aku ingin sekali melihat, menyentuh, dan merasakan salju. Keinginan itu masih ada, tapi sedikit bergeser. Pada tahun 2015 silam, aku berkenalan di media sosial dengan seorang Teteh asal Tasikmalaya yang tinggal di Trier, Jerman bernama Vitri. Saat itu Teh Vitri ke Jerman jalur Aupair hingga setelahnya dia melanjutkan pendidikan S2 dan bermukim di sana sampai sekarang.


Cantiknya Musim gugur di Jerman
Sumber foto: Instagram Teh Vitri


Berkomunikasi lewat chat, berteman di media sosial dan melihat foto-fotonya saat di Jerman, aku justru jatuh cinta sekali pada musim gugur. Rasanya senang setiap melihat tone musim gugur yang penuh warna merah, kuning, dan oranye. Melihat daun yang jatuh di jalanan memberikan kesan sendu sekaligus hangat. Terasa akrab sekali rasanya padahal aku belum pernah sekali pun melihat dan merasakannya secara langsung.


Dulu aku pernah punya keinginan untuk ke Jerman melanjutkan pendidikan atau mengikuti jejak Teh Vitri untuk Au Pair atau melanjutkan pendidikan S2 di sana, tapi jalan hidupku ternyata berbeda. Ada beberapa alasannya, tapi impian ke Jerman, Swiss, dan negara Eropa lainnya masih bersemayam di hatiku. Entah dapat keyakinan dari mana, tapi aku merasa impian itu akan terwujud. Hanya aku perlu sabar untuk mengusahakannya satu per satu untuk dapat diwujudkan saat waktu yang tepat.


Akhirnya aku memutuskan ingin merasakan musim gugur pertamaku di Korea Selatan. Karena aku menggemari drama korea dan acara hiburan asal negeri Ginseng sejak SD! Keinginan itu tak membuatku ragu sedikit pun. Sebab, drama korea dan acara hiburan Korea Selatan jadi penghiburanku juga di masa-masa tersulitku. Dari sana aku bisa merilis berbagai emosi; sedih, marah, takut, dan bahagia.


Meski beberapa selentingan omongan orang yang pasti akan meragukan mimpiku atau memberi komentar tak mengenakan seperti, “ngapain sih jauh-jauh ke Korea cuma buat kayak gitu aja?” atau “alah, gaya-gayaan lo ke luar negeri udah di dalam negeri aja napa.”


Sama seperti setiap orang berhak bebas berpendapat, setiap orang juga berhak untuk punya impian dan memiliki apa yang paling dia inginkan dalam hidup. Apalagi jika hal itu ya tidak merugikan orang lain kan? Maka, aku tak akan pernah gentar untuk punya impian ini. Seperti kata Bondan Prakoso dan Fade2Black dalam salah satu lagunya, “Hidup berawal dari mimpi, gantungkan yang tinggi agar semua terjadi.”


Alasan Harus Korea Selatan jadi Destinasi Menikmati Musim Gugur


Dari daftar negara impian yang ingin sekali aku kunjungi yang telah aku ceritakan sebelumnya, aku memilih Korea Selatan jadi destinasi untuk menikmati musim gugur. Atas dasar beberapa alasan dan pertimbangan. Terkait alamnya yang mempesona dan kecintaanku pada drama korea dan acara ragam Korea Selatan. Belum lagi harga tiket dan biaya perjalannya yang bisa dibilang masih jauh lebih terjangkau dibandingkan negara Eropa. 


Inilah alasan korea selatan jadi destinasi menikmati musim gugur dalam traveling caraku



Mendaki dan Menikmati Alam Gunung Seorak di musim gugur


Rencananya aku akan melakukan perjalanan 7 hari ke Korea Selatan. Memesan tiket pesawat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta lewat Traveloka menuju ke Bandara Internasional Incheon, Korea Selatan. Ada banyak rekomendasi penerbangan dan juga maskapai yang bisa dipilih.


Harga tiket pesawat Jakarta Seoul Korea Selatan

Hari pertama kedatangan aku di Korea Selatan, aku putuskan untuk beristirahat dan jalan-jalan di sekitar Seoul. Hari kedua baru aku mulai rencana pendakian ke Gunung Seorak. Aku tertarik untuk ikut tur Seorak Mount & Naksansa Temple yang aku temukan dalam aplikasi andalan perjalanan, Traveloka.


Rencanakan liburan di traveloka saat musim gugur ke gunung seorak korea selatan

Daftar impian traveling aku jadi berkembang. Tidak hanya ingin pergi ke Korea Selatan saja atau menikmati cantiknya dedaunan merah & oranye yang ada di Nami Island, tetapi aku juga ingin menikmati Korea Selatan dengan cara yang berbeda. Yup, mendaki gunung juga! 


Mendaki gunung atau yang dalam bahasa Koreanya disebut Deungsan ini jadi aktivitas yang ingin aku coba rasakan saat berkunjung ke Korea Selatan. Meski aku tau belum banyak gunung di Indonesia yang juga aku kunjungi, tapi aku ingin merasakan pengalaman berbeda mendaki gunung di negara lain. Pasti itu akan jadi pengalaman yang paling berkesan dan tak akan terlupakan sampai kapan pun. Saat mendaki ke Gunung Seorak aku juga akan pergi ke Naksansa Temple. Kuil Naksansa sering disebut sebagai kuil laut karena letaknya memang ada di tebing langsung menghadap ke Laut Timur. Tak heran bila pemandangan matahari terbitnya cantik sekali!

Sambil menikmati alam Korea Selatan di musim gugur, aku juga terpikir untuk berhenti sejenak dan duduk di salah satu batu yang ada di pinggir sungai dan bermeditasi🧘🏻‍♀️.


Perpaduan pemandangan alam gunung seorak di musim gugur dan pemandangan laut yang cantik dari naksansa temple
Sumber foto: Traveloka 

Coba lihat deh gambar di atas, perpaduan pemandangan alam, keindahan gunung dan pemandangan laut yang cantik seperti ini pasti bakalan membuatku merasakan pengalaman mendaki yang tak terlupakan! Apalagi bila bisa menginap di Naksansa Temple.



Napak Tilas Lokasi Syuting di Pohang


Setelah puas mengagumi keindahan alam Korea Selatan pada musim gugur di Gunung Seorak dan Naksansa Temple, pada hari keempat aku akan pergi ke kota Pohang. Perjalananku ke kota Pohang ini tak lain dan tak bukam untuk napak tilas lokasi syuting drama korea Hometown Cha Cha Cha. Yup, karena sebagian besar mereka syuting di kota Pohang, Provinsi Gyeongsang Utara. Tak cuma drama korea Hometown Cha cha cha, kota Pohang juga jadi lokasi syuting drama korea When the Camellia Blooms.


List tempat untuk napak tilas lokasi syuting drama korea, aku akan ke beberapa tempat ini:

πŸ‘‰πŸ» Cheongha Market

πŸ‘‰πŸ» Sabang Memorial Park 

πŸ‘‰πŸ» Mount Gonyrun (Gonlyunsan)

πŸ‘‰πŸ» Pantai Wolpo

πŸ‘‰πŸ» Cheongjin Hang East Breakwater Light

πŸ‘‰πŸ» Desa Deokdong



Di sini aku merencanakan untuk tinggal selama dua hari di kota Pohang. Sebab, aku jatuh hati pertama kali saat melihat kota Pohang.


Apalagi Kota Pohang ini beberapa kali jadi lokasi syuting acara ragam realitas “2D1N” atau biasa dikenal dengan Il-bak-il juga. Di dalam beberapa episodenya, acara 2D1N menunjukan keberagaman kuliner dari berbagai macam daerah di Korea Selatan, salah satunya ya di Pohang. Mataku sudah sering berbinar.


Terbayang olehku seberapa lezat dan kaya rasa suguhan kuliner yang disajikan. Pengalaman itu bisa aku alami saat traveling ke Korea Selatan, khususnya Pohang. Terlebih, banyak menggunakan berbagai rempah dan tidak sedikit pula olahan yang berasal dari laut di Korea Selatan yang kaya akan hasil maritimnya. Kuliner di kota Pohang yang ingin aku cicipi itu olahan dari Gwamegi (ikan hering kering), Pidegi (cumi-cumi kering), dan kepiting salju Guryongpo yang langsung ditangkap dari laut.


Selain itu, aku juga takjub dengan berbagai pemandangan indah yang tersaji. Perbukitan yang hijau dengan pemandangan kota dan lautnya yang indah. 


Lalu aku akan kembali ke Seoul dan melanjutkan ke destinasi selanjutnya yang juga jadi penutup impian traveling caraku, Nami Island!



Nami Island, Destinasi Terbaik Menikmati Musim Gugur


Menikmati musim gugur caraku di Nami Island Korea Selatan
Sumber foto: Traveloka 



Perkenalanku dengan Nami Island terjadi setelah drama korea Winter Sonata. Betul sekali, kalau Nami Island yang terletak di dekat sungai Bukhangang di Bangha-ri, Namsan-myeon, Chuncheon-si, provinsi Gangwon-do, Korea Selatan pernah dijadikan lokasi syuting drama Winter Sonata. Saat pertama kali mengetahui tentang Nami Island, aku sudah memasukan tempat di Korea Selatan ini sebagai tujuan wisata yang wajib dikunjungi.


Nami Island juga jadi destinasi favorit para wisatawan loh, sebab tempat ini cantik dalam segala musim. Namun, yang paling menarik menurutku saat musim gugur dan dingin. Sebab, pohon-pohon Metasequoia yang berjajar dengan rapi di sana dan berubah mengikuti musim. Pohon-pohon ini akan menguning oranye dan gugur daunnya di musim gugur atau pohonnya yang ditutupi salju saat musim dingin membuat Nami Island makin cantik. 


Hal menarik lainnya tentang Nami Island yaitu punya konsep menjadi sebuah “negara” imajinasi yang berbagi dongeng dan keindahannya dengan orang-orang dari seluruh dunia dalam Republik Namimara. Selain itu, keindahan Nami Island akan sangat bisa dinikmati oleh aku saat melewati jalur Metasequoia, Ginkgo, Pohon Pinus Korea, dan Hutan Reed Woods-nya! Tak hanya itu, di sana juga aku bisa melihat sekaligus belajar seni dan budaya dari Korea Selatan di museum dan studio kerajinan tangan yang ada di Nami Island.


Perjalanan ke Nami Island dimulai dari Seoul, aku memilih di hari ke lima aku di Korea Selatan. Sesampainya di area parkirnya, ada dua pilihan untuk sampai ke Nami Island, yaitu bisa menaiki kapal feri atau Skyline Zip Wire. Aku ingin sekali mencoba naik Skyline Zip Wire menuju ke Nami Island. Harga naik ini yang aku lihat dari website resminya adalah sekitar KRW 49,900 atau sekitar Rp600.000 per orang. Seperti ini penampakan Skyline Zip Wire yang menuju Nami Island


Seru dan menantangnya zip wire di nami island
Memacu adrenalin sambil melihat pemandangan indah dari Skyline Zip Wire Nami Island (sumber foto: visit korea)




Jadilah berani #LiveYourWay Dimulai dari Wujudkan Impian Traveling dengan Cara kamu sendiri


Perjalanan pertama ke Korea Selatan jadi mudah dan seru dengan rencanakan liburan di Traveloka, baik itu untuk pemesanan tiket, akomodasi liburan hingga rekomendasi trip yang ditawarkan. Tak cuma aku yang bisa berani ikuti suara hatiku untuk raih impian traveling caraku, loh. Kamu pun bisa lakukan caramu sendiriπŸ˜‰


Jangan pernah takut untuk mengikuti kata hati untuk jalani hidup dengan cara yang disuka. You only live once, so #LifeYourWay! Sebab kamu pantas berbahagia hidup dengan pilihan dan caramu sendiri.


23 komentar untuk "Menikmati Musim Gugur di Korea Selatan Bareng Traveloka"

  1. Hwah Kak Mita udah pernah naik ke Gunung Gede aja, saya aja yang tinggal di bawah lereng kaki Gunung Gede belum kesampaian naik ke sana. Semoga suatu saat bisa naik juga.
    Setuju sekali dengan Kak Mita dengan prinsip Life your way, happy with our way

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Kak Yonal ternyata tetanggan kotanya sama aku wkwk
      Aamiin, Kak. Semoga ada kesempatan bisa naik ke Gunung Gede dan Life Your Way untuk bisa traveling ke mana pun yang kakak impikan ya, Kak

      Hapus
  2. Traveling memberikan kita pikiran dan wawasan yang terbuka. Saya setuju sekali. Pertama saya tidak diijinkan kerja ke Singapura. Tapi setelah ke sana, hati dan jiwa saya terpanggil malah ingin ke Hongkong dan Taiwan. Alhamdulillah semua udah dialami. Padahal jaman dulu belum ada travel agen seperti Traveloka. Kalau ada, bakalan makin mudah pastinya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, Teh Okti ternyata banyak banget pengalaman traveling dan merantau ke luar negeri ya, Kak. Semoga rezekinya nular ke aku jadi bisa ke luar negeri juga dan wujudkan mimpi dengan mengikuti suara hati dan dengan caraku apalagi kalau bareng Traveloka.

      Hapus
  3. Menarik sekali, mbak.. Semoga impian mbak bisa terwujud. Travelling ke Korea selatan sesegera mungkin.

    BalasHapus
  4. Wah senang pastinya kalau bisa traveling ke Korea saat musim gugur
    Pastinya makin cantik pemandangan nya

    BalasHapus
  5. ga berasa ya udah mau akhir tahun lagi udah mau musim salju lagi bahkan mungkin sudah di beberapa negara, jadi kangen main salju lagi. Wah pasti Traveloka lagi banyak promo tiket murah niy berburu di musim salju

    BalasHapus
  6. klo datang ke korea akhir tahun, biasanya kita disambut dengan musim dingin. Klo aku lebih prefer kesana di musim panas aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak betul. Makanya aku pengin antara Oktober sampai November ke sananya karena udah masuk musim gugur. Jadi belum terlalu dingin. Cuma emang balik lagi tergantung juga ama cuaca.

      Hapus
  7. Asyiknya menikmati musim gugur di Korsel ini bareng suami deh supaya bisa seperti di drakor lawas yang settingnya pas musim gugur. Kapan yaa aku traveling ke Korsel? Pengen jugaaa.

    BalasHapus
  8. Ternyata banyak tempat seru di Korea Selatan. Tidak hanya kaya akan cerita dramanya, keindahan alamnya juga keren. Gak heran kalau banyak sekali wisatawan yang datang ke korea selatan

    BalasHapus
  9. Kata hati itu selalu membimbing pada hal yang tepat. Panggilan nurani yang tidka terpengaruh orang lain atau pemikiran lain. Btw jalan2 bareng traveloka jadi makin mudah dan menyenangkan ya, Kak.

    BalasHapus
  10. Qah keren banget tulisan ini, menginspirasi, apalagi bagian akhir wujudkan impian travellingd dengan caramu sendiri. Mantab

    BalasHapus
  11. Hwaaa keren bangett kayaknyaa yaa, aku jg ngelirik musim gugurnya Korea atau jepang, pengen banget ngeliat warna warni bunga yg ngga ada di Indonesia gituu

    BalasHapus
  12. Jauh amat mbak traveling sampai ke Korea. Berani. Saya aja keliling Indonesia belum pernah. Seru ya kalau bisa keliling Korea. Sampai ke tempat syuting drakor lagi. Keren

    BalasHapus
  13. Pengen banget ke korea tapi suami anak2 kurang suka, mereka sikanya ke Jepang lagi jepang lagi. Traveloka aplikasi langganan akuu sejak dulu suka dpt promo.(gusti yeni)

    BalasHapus
  14. Semoga impian Kak Mita bisa segera terwujud ya, Kak, terutama menikmati musim gugur di Korea Selatan. Momen ini bagus banget nih kayaknya kalau lihat di Kdrama

    BalasHapus
  15. Wah impian banget juga nih bisa menikmati musim gugur di Korea
    Pasti menyenangkan banget. Apalagi kalau perginya bersama orang-orang tersayang

    BalasHapus
  16. duh, kalo ke korea akutuh ngebayangin bs ketemu sama BTS, plus ke destinasi2 wisata yang kece badai buat nambah stok foto n video hehe

    BalasHapus
  17. Bersama Traveloka, impian ke Korea bisa terwujud.
    Yeaay~

    Ikut seneng melihat destinasi wisata yang ditulis.. Karena memang waktu yang paling oke ke Korea pas musim semi atau gugur yaah.. Uda gak terlalu dingin tapi juga belum masuk musim panas.

    Aku pengennya ke Korea timingnya pas ada konser, heheh..
    Mo nonton langsung biar dapet vibesnya. Kalo konser di Indonesia kan uda pernah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, Teh Lendy. Aku juga mauuuu itu juga. Ngerasain nonton konser atau fanmeet langsung di Korea. Semoga aja impian kita terwujud ya, Teh

      Hapus
  18. Bagi kita warga negara tropis sepertinya musim gugur jadi pilihan yang pas ya mbak. Kalau pas winter ke sana bisa shock banget dengan suhu ekstrim hehe.

    BalasHapus